Memuat... Memuat...
NEXT PRAYER: ... ... WIB

Perintah Allah dalam Menjaga Bumi : Renungan QS. Al-A’raf Ayat 56

Bumi bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah titipan. Setiap hembusan udara bersih,
setiap tetes air jernih, dan setiap helai daun hijau adalah nikmat yang Allah SWT
hamparkan sebelum manusia mampu menghitungnya.

Karena itu, menjaga alam bukan sekadar bagian dari iman dan tanggung jawab setiap
hamba. Tulisan ini adalah ruang bersama untuk bersuara, merenung, dan saling
mengingatkan bahwa manusia tidak boleh serakah terhadap bumi yang dipinjamkan oleh
Allah SWT kepada manusia.

Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Allah SWT menegaskan kedudukan manusia dalam firman-Nya:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'”

(QS. Al-Baqarah: 30)

Khalifah berarti pemimpin dan pengelola. Kedudukan ini bukan lisensi untuk menguasai,
melainkan amanah untuk merawat. Seorang pengelola yang baik tidak
menghabiskan apa yang dipercayakan kepadanya. Ia menjaganya agar tetap bermanfaat
bagi orang lain, termasuk generasi yang belum lahir.

Amanah selalu disertai pertanggungjawaban. Setiap pohon yang ditebang, setiap sumber
air yang dicemari, dan setiap lahan yang dibuka akan ditanyakan kelak, bukan hanya
oleh hukum dunia, tetapi oleh Pemilik sejati bumi ini.

Dalil Utama: Larangan Berbuat Kerusakan

Perintah menjaga alam dirumuskan dengan sangat jelas dalam QS. Al-A’raf ayat 56:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) menciptakannya
dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran penting dari ayat ini:

  • Pertama, bumi diciptakan dalam keadaan baik dan seimbang.
    Tugas manusia bukan memperbaiki ciptaan Allah dengan cara merusaknya,
    melainkan menjaga keseimbangan yang telah ada.
  • Kedua, larangan merusak bersifat tegas.
    Kata “janganlah” menunjukkan bahwa kerusakan di bumi bukan perkara sepele,
    melainkan perbuatan yang dilarang langsung oleh Allah.
  • Ketiga, ayat ini mengaitkan menjaga alam dengan sikap batin.
    Manusia diminta berdoa dengan khauf (rasa takut) dan
    thama’ (harap). Takut akan akibat dari perbuatan sendiri dan berharap
    rahmat-Nya bagi mereka yang berbuat baik (muhsinin).

Keseimbangan sebagai Hukum Ciptaan

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa alam semesta berdiri di atas keseimbangan:

“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan (mizan),
agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.”

(QS. Ar-Rahman: 7-8)

Hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup saling terhubung dalam jaring yang halus.
Ketika satu bagian terganggu, bagian lain ikut merasakannya. Asap yang menyelimuti
langit, napas yang sesak, sekolah yang diliburkan, hingga satwa yang kehilangan
rumah adalah pengingat bahwa tidak ada kerusakan yang berdiri sendiri.

Peringatan tentang Ulah Tangan Manusia

Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini tidak hanya mencatat adanya kerusakan, tetapi juga menyiratkan hikmah di
baliknya: agar manusia kembali. Setiap musibah adalah undangan untuk
bermuhasabah, memeriksa kembali cara kita memperlakukan alam, baik sebagai individu,
masyarakat, maupun bangsa.

Akar Persoalan: Keserakahan

Bila ditelusuri, banyak kerusakan lahir dari satu sifat: serakah, yaitu dorongan
mengambil lebih dari kebutuhan tanpa memikirkan akibat bagi orang lain dan masa depan.
Islam mengajarkan sikap yang berlawanan:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai
orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al-A’raf: 31)

Prinsip ini berlaku bukan hanya pada makanan, tetapi pada segala bentuk pemanfaatan
sumber daya. Rasulullah SAW pun memberi teladan kepedulian terhadap tanaman. Dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, beliau bersabda bahwa jika kiamat sudah
datang sementara di tangan salah seorang di antara kita ada bibit pohon, hendaklah
ia menanamnya.

Pesannya jelas: berbuat baik kepada bumi tetap bernilai, bahkan ketika hasilnya tidak
akan kita nikmati sendiri.

Dari Renungan Menuju Tindakan

Iman yang hidup selalu berwujud amal. Beberapa langkah yang dapat kita mulai bersama:

  • Menghadirkan niat sebagai khalifah.
    Menyadari bahwa menjaga lingkungan adalah ibadah, bukan sekadar anjuran sosial.
  • Hidup secukupnya.
    Mengurangi pemborosan, memilah sampah, dan menghemat air serta energi.
  • Menanam dan merawat.
    Satu pohon yang ditanam hari ini bisa menjadi sedekah jariyah di kemudian hari.
  • Tidak membakar sembarangan.
    Termasuk membuang puntung rokok atau membuka lahan dengan cara yang membahayakan sekitar.
  • Saling mengingatkan.
    Menyampaikan kebaikan dengan santun di keluarga, majelis, dan masyarakat.
  • Mendukung upaya pemulihan.
    Mendoakan, membantu para petugas dan korban terdampak, serta menjaga solidaritas.
  • Berdoa dengan khauf dan thama’.
    Memohon agar bencana diangkat dan hati kita dilembutkan untuk berubah.

Bumi tidak meminta banyak dari kita, hanya keadilan dan kasih sayang. Allah SWT telah
menciptakannya dengan baik, dan Dia memerintahkan kita menjaganya dengan baik pula.
Semoga musibah yang sedang kita saksikan menjadi pengingat yang melembutkan hati,
bukan sekadar berita yang berlalu.

Semoga Allah SWT meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak, memadamkan api
dan membersihkan langit kita, serta menjadikan kita termasuk golongan
muhsinin, orang-orang yang berbuat kebaikan, yang rahmat-Nya sangat dekat.

Wallahu a’lam bish-shawab.